Beranda

Senin, 01 Oktober 2012

Bisakah disebut hobby??

Hobby itu semacam kesukaan kan?
Nah, kita tahu kan kesukaan seseorang itu bisa berubah sesuai sikon (situasi dan kondisi). Aku menulis seperti ini karena kebetulan sekarang aku punya kesukaan baru nih. Hehehe
Sewaktu SD sampai SMP hobbyku adalah jalan-jalan, nonton TV, dan tidur (padahal tidurkan kebutuhan bukan kesukaan) ketahuan deh onengnya. :D
Masuk SMA hobbyku langsung aku perbarui menjadi membaca. Biar lebih intelektual dikitlah. Masak anak sekolahan gak suka baca? Tengsinnya pakek banget kan? Dari sini aku baru menyadari kalau membaca itu bisa menyalurkan hobby terselebungku, yaitu menghayal. Imajinasiku bisa jalan kalau ada objek yang memancingnya. Seperti novel dan teman-temanya. Kelas tiga SMA hobby membacaku naik kelas dikit. Dari yang awalnya suka milih-milih buku bacaan, sekarang sudah maju dikitlah. Biasanya aku akan membaca buku hanya jika buku itu dalah novel, buku sekolah? (anti bangeeet).
Masuk kelas tiga berbarengan dengan bertambahnya semangatku mempertebal iman aku beralih dari novel ke buku bacaan islami. Salah satu konsumsi awalku adalah buku karangan Salim A.fillah dan buku yang setebel Al-Quran (Laa tahzan). Sempat berpikir kalo hoby ku ini sangat standar untuk kalangan siswa, melihat sepupuku yang punya banyak hobby kadang aku heran, kok bisa?? Dia menggambar jago, baca juga suka, apalagi nulis. Dalam diarynya saja dia isi dengan kumpulan puisi, nah bagaimana dengan buku diaryku? Disana aku hanay corat-coret tak jelas dengan gaya bahasa yang sangat menggelikan karena terinspirasi oleh sinetron (maklum hobby nonton TV). Sering mencoba menggambar, ujung-ujungnya malah menjiplak punya sepupuku itu. Haduh, payah. Gara-gara kepayahanku ini aku sering kelimpungan jika di suruh mendeskripsikan bakat.
Masuk kuliah hobbyku masih sama, yaitu membaca. Tapi novel sudah lumayan jauh ku tinggalkan. Karena sadar hobby ngayalku yang sangat tinggi khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan (lebbay). Namun, kembali lagi pada perbandingan diri dengan hoby orang lain. Melihat hobby orang yang menggambar dan menulis itu sangat waw menurutku. Akhirnya aku coba mencari hobby baru, menggambar. Ya itulah yang sangat ingin aku kuasai. Karena kupikir jika punya hobby menggambar, hobby itu bisa sangat berguna disaat kantuk melanda di ruang perkuliahan. Daripada sibuk mengajak teman mengobrol saat ngantuk di kelas lebih baik menyalurkan bakat. Dari sekian corat coret tak jelas akhirnya gambar perdana ku berhasil . ini dia
Yah walaupun hanyalah gambar kerudung dengan wajah polos tanpa mata, hidung dan perlengkapan wajah yang lain aku cukup puas dengan kemapuan baruku. Haha
Selanjutnya bakat menulis yang sangat ingin aku coba. Melihat blog orang-orang yang sangat bangga dengan posting-posting karya otak mereka, aku kembali heran dan ingin sekali mencoba. Awalnya aku punya banyak alibi untuk tidak mencoba menulis, karena menulis mebutuhkan sarana untuk mengekspresikannya jadi menurutku laptop atao komputerlah yang menjadi penunjang utama. Dan aku tidak memiliki itu semua. setelah berhasil merayu emmak bapak untuk membelikan aku laptop akhirnya aku berani memulai yang namanya menulis. Bermodal modem gratisan dan minta tolong orang sani-sani untuk membuatkan blog jadilah tulisan pertamaku yang aku poskan lewat blog ku ini. Yang awalnya modem hanya digunakan untuk bermain di facebook dan twitter, sekarang aku punya mainan baru. Jadi hobby baruku sekarang adalah MENULIS itung-itung untuk isi blog lah. Hahaha
Dan ku ucapkan banyak terimakasih dong kepada:
1. Sang pemberi rezeki dan akal pikiran (Allah SWT)
2. Emmak bapak yang selalu berusaha memenuhi kebutuhan ku.
3. Modem yang ku beli dari hasil tabungan sendiri
4. Sepupu tercintaku Afina Fani abdillah (hoek)
5. Bak dila dan teman kontrakan ku sabihah (abi)
Mulai mengalay. :D

Semoga kekhilafan ku tak berimbas pada jalan surga kalian..

Aku adalah anak ke dua dari empat bersaudara. Kami semua Alhamdulillah lahir sebagai anak yang sempurna dari kedua orang tua yang sempurna juga.

Bapakku bernama Moh. Yasin, bapak yang sangat aku sayangi dan sangat aku hormati. Dia adalah bapak yang sangat sabar dan sangat periang. Dari aku lahir sampai sekarang usiaku 20tahun, tak pernah seikitpun aku mendengar kata-kata kasar kemarahan darinya. Laki-laki usia paruh baya ini hanya bisa bangga dengan ijazah SDnya. Jadi aku sangat memaklumi jika dia sering kelimpungan mengahadapi pertanyaan tugas sekolah dari kami. Dengan minimnya pendidikan yang ia tempuh, ia hanya bisa melakukan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga dengan bekerja sebagai buruh kasar. Tapi rasa kagumku pada bapak tak pernah kurang. Bapak tetap berusaha memenuhi semua kebutuhan kami dan dia selalu berusaha untuk memberi kami perhatian yang sangat hangat. Dalam hidupnya, bapak tak pernah melupakan tawanya yang khas. Disaat ekonomi menghimpitpun dia masih bisa santai menghadapi keluhan-keluhan emmak tentang uang belanja. Dia tak pernah menampakkan beban pikirannya kepada kami anak-anaknya.

Pernah suatu pagi aku merengek minta uang bulanan sekolah yang harussegera dibayar. Padahal aku tahu saat itu bapak benar-benar sedang bingung mencari alasan padaku untuk menunggu sampai ia punya uang. Namun, sifatku yang ingin semuanya beres tetap merengek pada bapak untuk segera memberiku uang. Dan bapakpun pergi dari hadapanku entah kemana. Dirumah aku menggerutu kesal karena tak digubris oleh bapak. Beberpa menit kemudian bapak datang membawa sejumlah uang yang aku minta. Dan saat itu aku tahu bahwa uang itu hasil usaha bapak meminjam pada kerabat, sungguh menyesalnya aku. Saat itu ingin sekali aku memeluk bapak dan minta ampun padanya. Namun, karena sikap kekanak-kanakan ku aku memilih acuh pada keadaan itu dan langsung pergi sekolah. Bapak.. maafkan anakmu ini. T.T

Yah itulah sedikit gambaran tentang hebatnya bapakku tersayang. Sekarang giliran emmaku. :')
Emmak, yah itulah panggilan kami pada wanita kelahiran tahun 70an ini. Asnami, nama yang sangat singkat dan aku yakin emmak juga tak tahu makna singkat dari namanya itu. Emmak di nikahi bapak saat usianya kurang lebih 18 tahun. Dia terpaksa menikah muda karena yah biasalah orang kampung. Hehehe himpitan ekonomi. Tahun 86 dia melahirkan kakak pertamaku, lengkaplah kesempurnaanya sebagai seorang perempuan dan seorang ibu. Emmak yang juga hanya bisa berbangga dengan bermodal ijazah SD ini tak jauh beda nasibnya dengan saudaranya yang lain. Dia terkenal jutek dikalangan tetanggaku, tapi kejutekannya ini yang membuat kami anak-anaknya aman dari gangguan teman-teman sekmapung. Karena prinsip emmak” siapa yang berani menyentuh anakku, maka dia harus berurusan denganku” hahaha perkasanya kau maaak .:*

saat ini emmak masih berprofesi sebagai ibu rujak di pasar, hal ini ia lakukan untuk membantu menutupi kekurangan ekonomi keluarga kami. Setahuku dalam hidup emmak tak pernah ada kata libur berjualan selagi dia masih bisa bangun dari kasur. Emmak adalah wanita perkasa yang sangat mandiri. Dia selalu memanjakan kami naka-anaknya dengan memenuhi kebutuhan kami. Sifat tak pernah mengeluhnya sangat bertolak belakang denganku. Dia adalah emmak yang rela menunda makan paginya demi mencari nafkah untukkami. Emmak yang merelakan waktu berkumpul dengan anaknya dari subuh sampai menjelang dzuhur demi keinginan membawa pulang uang dari pasar. Dan emmak yang selalu tersenyum meski terkadang mendapat kedzoliman dari kami anaknya.

Anak, sifatnya memanglah tidak jauh dari kata membangkang. Disaat kita kecil, kedua orang tua kita pasti tak muluk-muluk menaruh harapan pada kita. Harapan mereka pastilah berharap semoga kita menjadi anak yang shalih dan shalihah. Namun, disaat kita telah dewasa. Tak pernahkah kita berpikir sudahkah kita menjadi anak yang sesuai dengan harapan mereka? Aku yakin orang tua manapun tak akan sudi meminta imbalan pengerbonan yang mereka beri pada kita, namun mengingat kewajiban kita terhadap orang tua, masihkah kita tega mengacuhkan mereka. Aku hanya takut, karena kekhilafan anak-anakmu ini akan menghambat jalan emmak bapak menuju surga. Aku hanya takut, karena keegoisan anaknya malah membuat sakit hati emmak bapak. Dan aku berharap semoga kelak kami anak-anakmu tak akan mengurangi catatan amal kebaikan kalian di akhirat nanti. Semoga peluh dan semua pengorbanan kalian menjadi ladang ibadah untuk kalian dan semoga ibadah kami anak-anakmu bisa membantu meringankan jalan kalian menuju surganya. Dan semoga kita semua tidak termasuk golongan anak-anak yang menjerumuskan orang tua kita pada nerakaNya,

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapak ku dan semua orang yang beriman pada hari di adakan perhitungan (kiamat)” (QS. IBRAHIM : 40-41)

Rumah Masa Depan

النفس تبكي على الدنيا وقد علمت...أن السلامة فيها ترك ما فيها
(Sungguh aneh) jika jiwa menangis karena perkara dunia (yang terluput) padahal jiwa tersebut mengetahui bahwa keselamatan adalah dengan meninggalkan dunia
 لا دار للمرء بعد الموت يسكنها...إلا التي كان قبل الموت يبنيها
 Tidak ada rumah bagi seseorang untuk ditempati setelah kematian, kecuali rumah yang ia bangun sebelum matinya
فإن بناها بخير طاب مسكنه...وإن بناها بشر خاب بانيها
 Jika ia membangun rumahnya (tatkala masih hidup) dengan amalan kebaikan maka rumah yang akan ditempatinya setelah matipun akan baik pula أموالنا لذوي الميراث نجمعها...ودورنا لخراب الدهر نبنيها
Harta kita yang kita kumpulkan adalah milik ahli waris kita, dan rumah-rumah (batu) yang kita bangun akan rusak dimakan waktu
 كم من مدائن في الآفاق قد بنيت...أمست خرابا وأفنى الموت أهليها
Betapa banyak kota (megah) dipenjuru dunia telah dibangun, namun akhirnya rusak dan runtuh, dan kematian telah menyirnakan para penghuninya
أين الملوك التي كانت مسلطنة...حتى سقاها بكأس الموت ساقيها
Dimanakah para raja dan pimpinan yang dahulu berkuasa? Agar mereka bisa meneguk cangkir kematian
لا تركنن إلى الدنيا فالموت...لا شك يفنينا ويفنيها
Janganlah engkau condong kepada dunia, karena tidak diragukan lagi bahwa kematian pasti akan membuat dunia sirna dan mebuat kitapun fana
واعمل لدار غدا رضوان خازنها...والجار أحمد والرحمن بانيها
Hendaknya engkau beramal untuk rumah masa depan yang isinya adalah keridoan Allah, dan tetanggamu adalah Nabi Muhammad serta yang membangunnya adalah Ar-Rohman (Allah yang maha penyayang)
قصورها ذهب والمسك طينتها...والزعفران حشيش نابت فيها
Bangunannya terbuat dari emas, dan tanahnya menghembuskan harumnya misik serta za'faron adalah rerumputan yang tumbuh di tanah tersebut
أنهارها لبن مصفى ومن عسل...والخمر يجري رحيقا في مجاريها
Sungai-sungainya adalah air susu yang murni jernih, madu dan khomr, yang mengalir dengan bau yang semerbak
والطير تشدو على الأغصان عاكفة...تسبح الله جهرا فى مغانيها
Burung-burung berkicau di atas ranting dan dahan di atas pohon-pohon yang ada di surga Mereka bertasbih memuji Allah dalam kicauan mereka
فمن يشتري الدار في الفردوس يعمرها...بركعة في ظلام الليل يحييها
Siapa yang hendak membangun surga firdaus maka hendaknya ia memenuhinya dengan sholat di dalam kegelapan malam

Minggu, 30 September 2012

Kemana kau simpan jubah supermenmu itu sekarang?

Samapai sekarang jujur diri ini masih sering bertanya-tanya. Apa yang salah dengan sikap ku terhadap teman yang sangat aku sayangi disana. Entah kenapa 3 bulan terakhir dia mulai mengabaikan ku. Bahkan semapat berniat menusuhiku. Jika seorang teman peduli pada saudara seimannya salah kah itu?
Aku menjagamu tak akan seintensif kedua malaikat dikanan kirimu, aku dekat denganmu tak akan sedekat pengawasan Allah terhadapmu.
Jadi benarkah karna keegoannku yang kadang sering acuh jika kau bercerita tentang kisah cintamu yang membuatmu kesal denganku? Benarkah karena teguran-teguran kecil dariku yang membuatmu mengahpusku dari daftar pertemanan mu? Padahal ingatkah kau saudariku? Dulu kau sendiri yang memintaku untuk terus menyemangatimu dari belakang, kau sendiri yang memintaku untuk terus mengingatkanmu jika kau mulai lupa tentang aturan-aturan Allah. Dan kau sendiri yang memintaku untuk tidak bosan menanyai keadaanmu atau sekedar saling tegur di jejaring social atau sms. Namun saat ini kurasa ada yang salah denganmu. Sekarang kau malah mengacuhkan ku dan memilih berbabagi cerita dengan teman yang memiliki nasib denganmu. Kau malah mengacuhakan semua sapaanku terhadapmu. Dan yang paling membuatku mersa bersalah, sekarang kau benar-benar memilih meninggalkan “jubah supermen” mu itu. Padahal saudariku, tak sadarkah kau? Kau sangat anggun dengan jjubah itu. Kau sangat menggambarkan identitas kemuslimanmu dengan jubah itu. Tak ingatkah kau dulu menggebu-menggebu untuk sama-sama berjihad melawan hawa nafsu yang sering melonjak tidak pada tempatnya. Kita saling mengingatkan satu sama lain. Kau menangis padaku, tiap hari kau rajin bercerita tentang kehidupanmu padaku. Dan itulah yang membuatku bertekat untuk terus beristiqamah agar di saat kau butuh pengingat aku siap mengingatkanmu. Aku tahu, aku juga manusia yang tak luput dari yang namanya kelabilan jiwa dan iman.
 Namun, aku yakin dengan tetap menjaga silaturrahim dengan orang-orang berilmu insyaAllah kita tak akan terlempar jauh dari zona hilangnya hidayah. Dan aku sadar tentang kewajiban muslim terhadap muslim lainnya. Aku hanya takut di akhirat nanti kau mencegatku karena aku meninggalkanmu. Aku hanya takut kelalaianku terhadapmu membuatmu membenciku. Aku tahu kau bukanlah orang yang tak berilmu, jadi kau pasti tahu lantaran lunturnya iman seseorang karna apa, dan kau pasti tahu kewajiban seorang muslimah itu seperi apa. Mungkin saat ini kau sedang lupa, mungkin kau sekarang sedang ingin bermain dengan imajinasimu. Tapi aku berharap jangan lama-lama ya saudariku. Walaupun saat ini kau sedang marah padaku, aku berharap kau tak akan lama memutus tali silaturrahim ini. Dan semoga kau cepat merangkul kembali hidayah yang sempat kau lepas ini. Saudariku ambillah kembali jubahmu itu dan marilah kita berjuang besama-sama untuk mencapai manisnya iman dan nikmatnya keistiqomahan. Dengan yakin aku berkata “tak ada niat sedikitpun dariku menjahuimu.”

Sabtu, 29 September 2012

Jurusanku MANAJEMEN bukan NERAKAmen……..

Mahasiswi Manajemen , ya itulah status resmiku sekarang. Aku memilih jurusan ini awalnya memang karena tertarik pada kata “manajemen”. Menurutku akan sangat keren jika aku menyandang gelar mahasiswi manajemen. Dari situlah aku bertekat untuk melanjutkan kuliahku dan memilih manajemen sebagai jurusnku. Seleksi masuk perguruan tinggi ku ikuti dengan bermodal beasiswa untuk orang tidak mampu. Dan Alhamdulillah aku lolos. Disinilah aku mulai berpikir tentang jurusan ku ini. Mungkin benar karena aku bersal dari SMA kabupaten (pamekasan, Madura) aku terlalu polos untuk membayangkan seperti apakah kehidupan yang akan aku lalui menjadi mahasiswi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM). Aku tak pernah tahu bagaiamana belajar ilmu ini, bagaimana aku beradaptasi dari jurusan IPA dan berbelok ke ilmu social, bahkan bagaimana pergaulan disanapun aku tak tahu. Yang aku yakin , Allah tak akan menjerumuskan makhluknya yang berniat untuk mencari ilmuNya. Dan karena aku memilih jurusan ini dengan meminta izin pada Allah (istokharoh) serta pada kedua orang tuaku dengan yakin aku berangkat menuju kampus yang Allah takdirkan untukku (kota hujan).
Setelah berjalan satu semester disana aku tahu seperti apa jurusanku ini. Anehnya Fakultas yang katanya keren ini banyak mendapat sorotan dari fakultas fakultas lain di kampusku. Sorotannya bukan hal positif kami, tapi malah selentingan selentingan negative tentang kami yang mereka bicarakan. Mulai dari memplesatkan nama fakultas, sampai menjudge fakultas kami sebagai fakultas ter-seleb di kampus. FEM ( Fakultas Entertaiment and modeling), inilah yang aku tahu dari sekian julukan negative untuk fakultasku. Setiap julukan yang ada pastilah ada sebabnya, aku sendiri mengakui bagaimana pergaulan dan cara berpakaian teman satu fakultasku. Mereka yang banyak berasal dari jabodetabek, dan mereka yang banyak berasal dari keluarga yang mampu tidak heran jika kehidupan metropolis sangat identik dengan mereka. Dilihat dari cara berpakaian teman temanku sudah bisa dibandingkan dengan teman ku dari fakultas lainnya. FEM yang modis, FEM yang gaul. Yah mereka bangga dengan julukan tersebut, tidak dengan aku.
Aku yang Alhamdulillah menyadari fitrah, aku yang bersala dari kampung, dan aku yang kuliah bermodal beasiswa sangat sangat sulit berdaptasi dengan mereka. Sampai pada saat aku menginjak semester 3, aku mulai resah dengan adaptasi adaptasi yang terjadi dalam kelasku. Disana banyak sekali orang-orang modis yang sangat senang unjuk penampilan. Mulai dari mahisiswa non islam sampai yang satu agama denganku bercampur disana. Baju kuliah yang sengaja dimasukkan kedalam celana, kerudung ala hijaber yang melilit melilit di kepala menjadi kebanggaan disana. Mungkin memang agamaku menegaskan dalam al-Qur’an (al-kafirun : 6) namun yang membuat ku dilemma disana adalah minimnya teman yang sama denganku.
Terkadang rasa takut terbawa arus itu muncul, namun aku yakinkan diri ini untuk tidak banyak berinteraksi dengan mereka. Dari sekian banyak aturan aturan yang di buat kakak tingkat, akulah adik tingkat yang berani melanggar aturan itu. Mulai dari aturan bagaimana bergaul dengan lawan jenis yang tak perlu mempedulikan hijab, hingga cara berpakaian yang ku sebut sebagai ajang pemboyongan masuk neraka. aku memberanikan melanggar itu semua.
Salah satu teman ku menegur sifat angkuh ku ini, dia menegaskan bahwa kita adik tingkat harus patuh dan kompak pada atasan. Dan memboyong pedoman bahwa aturan itu dibuat untuk di patuhi bukan untuk di langgar. Dengan santai aku menjawab teguran temanku, aturan di buat memang untuk di patuhi. Namun kita juga harus pinter memilah peraturan seperti apa itu, jika peraturan itu melanggar peraturan yang sudah ada untuk apa kita patuhi. Peraturan dari agamaku jelas tetap menjadi priotasku. Melihat pergaulan dalam jurusan ku membuatku berfikir, apakah satu kelas ini akan terseret pada neraka mu ya Allah?
 Pernah dalam suatu acara yang di buat kakak tingkat untuk kami, membuatku lebih yakin kalau acara ini memanglah tidak layak untuk ku hadiri. Karena disana kita di suruh memakai gaun pesta. Mungkin memang benar dalam simulasi yang beredar aturan gaunnya harus sopan dan di bawah lutut. Namun apa yang terjadi? Diruangan itu hampir semua yang datang berpakain ala artis holiwood. Memakai dres di atas lutut, dan dres menutupi litut namun pamer leher dan punggung. Sungguh pada malam itu ingin rasanya aku berteriak, TEMPAT APA INI? Dengan rasa tak berdosa mereka berlenggak lenggok pamer aurat dan bergandengan tangan dengan lawan jenis membuatku semakin panas dingin dan ingin cepat cepat keluar dari ruangan mistis itu. Mengingat aku sendiri yang merasakan hal itu jelaslah aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali istighfar yang tak henti ku ucapkan.
Dari sinilah aku berhusnuzdon pada Allah, mungkin dari sinilah aku bisa meraih ladang amal. Dari sinilah aku berkewajiban menuntut ilmu Allah dengan kekuatan iman agar tidak terseret pada gemerlap dunia, dan dari sinilah aku mengajak temanku untuk kembali pada fitrahmya. Perjuangan yang cukup keras, inilah yang kurasa selama aku berkumpul dengan teman-teman manajemenku. Dan berharap aku dan segelintir teman yang saat ini sudah menyadari fitrahnya makin memperkuat iman dan jangan sampai mengurangi jumlah yang positif dan menambah jumlah orang yang negative.

 “Yaamuqallibal qulub, tsabbit qalbii ‘alaadiinik. (wahai dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku dalam agamaMu”(HR.AT-TIRMIDZI DAN AHMAD )

Iman ku yang fluktuatif

Aku,
Salah satu muslimah yang hingga detik ini sangat sangat bersyukur kepada Sang pemberi takdir. Dia yang Maha Esa, Maha Kuasa dan Maha Segalanya telah menetapkan / menakdirkan ku lahir dari orang tua Muslim. Bersyukur karena Dia telah menarikku dari masa jahiliah seorang muslim menuju makhluk yang bersemangat mencari ilmu-Nya, dan memeberiku kesempatan menikmati indahnya hidayah dan manisnya iman.
Aku,
Makhluk-Nya yang selalu berangan dan berusaha untuk menjadi manusia yang hidup sesuai fitrahnya. Makhluk-Nya yang sangat merindukan ke istiqamahan . Dan makhluk-Nya yang masih sering labil dalam hal kehidupan dan keimanan.
Istiqamah adalah saat hati ini berkata “ sudahlah, aku lelah”. Tapi kita tetap bertahan dengan semua sisa tangan kita, tak berhenti bergerak dan melawan bisikan halus si setan baik dalam keadaan ringan maupun berat. Yah, itulah makna istiqamah yang aku tangkap.
Namun, ironisnya istiqamah sendiri bagiku masih sangat jauh dari genggaman. Mengingat amalan wajibku yang masih ku kerjakan dengan se enaknya, dan kelalaian ku terhadap sunnah-Nya. Sebagai seorang muslim ini patut dan wajib menjadi koreksi untuk tanggung jawab terhadap Sang Pemilik. Keimanan seseorang memanglah sangat fluktuatif, mungkin dalam waktu seminggu kita sangat rajin melaksanakan semua kewajiban dan amalan sunnah. Dan dalam minggu selanjutnya kita malah sering lalai terhadap itu semua. Disaat kita menyadari tentang kelalaian tugas kita, masihkah kita berpura-pura tak berdosa? Pantaskah kita menyepelekan dan mencari berbagai alibi untuk mebenarkan alasan kita yang lalai karena kesibukan duniawi? Karena aku orang beriman, jelaslah aku jawab “TIDAK”.
Rasa tak tenang sering kali muncul saat menyadari kelalaian ku terhadap kewajiban, dan maksiat yang masih bertebaran dimana-mana. Turunnya iman seseorang pastilah ada sebabnya. Dan aku berharap perbaikan diri akan terus kulakukan sampai istiqamah itu ku jaga.
Karena disaat hidayah sudah ditangan, tugas kita adalah meperjuangkannya dan menjaganya dengan baik. Tatkala Allah SWT memberi hidayah kepada seseorang, Ia mudahkan orang itu untuk melakukan kebenaran. Dan manusia yang berakal pasti mengerti janji dan ancaman Allah SWT, paham balasan dalam melaksanakan perintah dan larangannya, serta paham akan hukum dan kewajibannya.
Maka di saat iman kita turun kewajiban kita adalah mengoreksi kembali bagaimana kita pergunakan waktu yang Allah berikan, dan bagaimana kita menjaga hidayah yang Allah amanahkan kepada kita.

“wahai anak Adam, semua kalian sesat kecuali orang yang ku beri hidayah. Maka mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku beri hidayah.” (HR. AL-BUKHARI DAN MUSLIM)

Bekal Takwa

تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي*** إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ
 Berbekallah ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahu… Jika malam telah tiba apakah engkau masih bisa hidup hingga pagi hari
وَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ *** وَكَمْ مِنْ عَلِيْلٍ عَاشَ حِيْناً مِنَ الدَّهْرِ
 Betapa banyak orang yang sehat kemudian meninggal tanpa didahului sakit… Dan betapa banyak orang yang sakit yang masih bisa hidup beberapa lama
فَكَمْ مِنْ فَتًى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا *** وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِِي
 Betapa banyak pemuda yang tertawa di pagi dan petang hari Padahal kafan mereka sedang ditenun dalam keadaan mereka tidak sadar
وَكَمْ مِنْ صِغَارٍيُرْتَجَى طُوْلُ عُمْرِهِمْ *** وَقَدْ أُدْخِلَتْ أَجْسَامُهُمْ ظُلْمَةَ الْقَبْرِ
Betapa banyak anak-anak yang diharapkan panjang umur… Padahal tubuh mereka telah dimasukkan dalam kegelapan kuburan
وَكَمْ مِنْ عَرُوْسٍ زَيَّنُوْهَا لِزَوْجِهَا *** وَقَدْ قُبِضَتْ أَرْوَاحُهُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ
Betapa banyak mempelai wanita yang dirias untuk dipersembahkan kepada mempelai lelaki… Padahal ruh mereka telah dicabut tatkala di malam lailatul qodar
artikel penyejuk hati => http://firanda.com/index.php/artikel/penyejuk-hati